|

Eks-JI Bersinergi dengan Densus 88, Pilih Tinggalkan Ekstremisme dan Kembali ke NKRI

Medan, wayticenter.com — Momentum bersejarah terjadi di Hotel Emerald Garden, Medan, pada Sabtu (30/8) ketika para mantan pimpinan dan anggota Jemaah Islamiyah (JI) secara resmi mendeklarasikan pembubaran organisasi mereka dan meneguhkan ikrar untuk kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Acara bertajuk “Transformasi Ideologi Jemaah Islamiyah: Jalan Menuju Wasathiyah, Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat dan Moderat” ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari unsur pemerintah, aparat keamanan, lembaga keagamaan, dan akademisi.

Hadir dalam acara tersebut Kakanwil Kemenag Sumut H. Ahmad Qosbi, S.Ag., MM, Sekretaris MUI Sumut Prof. Dr. Asmuni, M.A., perwakilan dari Kapolda Sumut, Pangdam I/BB, Bais, Kabinda Sumut, Baznas Sumut, serta Kaban Kesbangpol Kota Medan.

Narasumber yang memberikan pandangan dalam acara ini antara lain Para Wijayanto, Nasir Abbas, Wiji Joko Santoso, Joko Priyono, Budi Tri Karyanto, Muh Choirul Anam, dan Askary Shinghotulhaq.

Kasatgaswil Densus 88 Antiteror Polri Sumut, Kombes Pol Dr. Didik Novi Rahmanto, S.I.K., M.H., menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan simbol rekonsiliasi dan persaudaraan. “Acara ini bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi lebih kepada bagaimana kita bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik dan harmonis. Perubahan itu selalu mungkin, dan kini kita menyaksikan saudara-saudara kita yang pernah menempuh jalan yang berbeda, telah kembali, bertobat, dan bertekad kuat untuk membangun bangsa,” ujarnya.

Kombes Pol Dr. Didik Novi Rahmanto juga menekankan pentingnya kolaborasi dari semua pihak dalam menjaga Indonesia dari ancaman ideologi ekstrem, intoleransi, dan paham yang memecah belah. “Transformasi ideologi bukan sekadar konsep, tetapi sebuah proses panjang yang hanya bisa berhasil jika didukung oleh aparat, pemerintah, ulama, akademisi, dan seluruh masyarakat,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ust. Para Wijayanto, yang mewakili eks-JI, membacakan Deklarasi Pembubaran Jemaah Islamiyah yang memuat enam poin penting:

1. Membubarkan Al-Jamaah Al-Islamiyah dan kembali ke pangkuan NKRI.

2. Menjamin kurikulum dan materi ajar bebas dari paham ekstremisme, serta berlandaskan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

3. Membentuk tim pengkajian kurikulum agar pesantren afiliasi JI sejalan dengan standar Islam moderat.

4. Siap berkontribusi aktif dalam mengisi kemerdekaan Indonesia.

5. Siap mematuhi hukum yang berlaku di NKRI.

6. Segala kesepakatan akan dibicarakan melalui negara bersama Densus 88 Anti Teror Polri.

Dalam tausiyahnya, Para Wijayanto mengutip Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 143) tentang pentingnya menjadi ummatan wasathan — umat pertengahan. “Jalan wasathiyah adalah menjaga aqidah, menegakkan ibadah, sekaligus menebar rahmat dan kedamaian. Inilah jalan Islam yang sesungguhnya, rahmat bagi seluruh alam,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari fitrah manusia dan juga ajaran Rasulullah SAW. “Tidak ada jalan yang lebih mulia bagi seorang muslim selain kembali ke jalan wasathiyah — jalan lurus penuh rahmat dan kasih sayang,” ucapnya dengan penuh haru.

Acara ini ditutup dengan ajakan bersama untuk meneguhkan semangat kebangsaan dan memperkuat persaudaraan. Para mantan pimpinan JI yang kini kembali ke NKRI diharapkan menjadi teladan bahwa perubahan selalu mungkin, dan bahwa Indonesia adalah rumah besar yang harus dijaga bersama.

(Togi Sihombing)

Sumber humas Polda Sumut

Komentar

Berita Terkini